Thursday, September 3, 2009

The Healing Power of Mind

Bahwa kekuatan pikiran bisa membantu mempercepat penyembuhan penyakit bukan hanya dilakukan dalam praktik pengobatan masa lalu oleh dokter Yunani kuno. Praktik ini juga diakui secara medis. Herbert Benson, profesor dari Harvard Medical School pada tahun 1996 mempublikasikan hasil penelitiannya dan menyimpulkan bahwa tingkat stres akibat penyakit bisa diturunkan dengan cara mengalihkan fokus pikiran kepada hal-hal lain, misalnya mendengarkan musik, ucapan, atau gerakan. Bahkan, efek psikologisnya akan lebih baik jika dibarengi bimbingan agama.

Frances Hodgson Burnett juga menyadari hal itu. Ibu yang dilanda kesedihan luar biasa karena bayinya meninggal dunia, memilih mengobati dirinya sendiri dengan mengalihkan pikirannya. Lewat imajinasinya, Frances mengobati perasaan sakit dalam dirinya dengan menulis sebuah cerita menggugah. Kisah yang mulanya ditulis sebagai cerita bersambung di American Magazine pada tahun 1910, diterbitkan menjadi novel setahun kemudian berjudul The Secret Garden.

Francess bercerita tentang sosok anak perempuan 'nakal' bernama Mary Lennox. (Tapi pembaca akan merasa iba kepadanya karena ia adalah anak yang ditelantarkan orangtuanya, kemudian menjadi yatim piatu karena ayah dan ibunya terkena wabah penyakit). Mary kemudian diasuh sang paman yang pemurung dan sangat menutup diri semenjak kehilangan istrinya. Di kediaman sang paman, Mary menemukan dunianya yang baru di sebuah taman rahasia yang selama ini terkunci. Taman tersebut milik mendiang bibinya yang sengaja ditutup sang paman untuk mengubur kenangan indah tentang istrinya. Mary merasa senang karena bisa bermain dengan bunga-bunga di taman itu, ia juga merasakan dirinya lebih baik karena memiliki teman bermain (Dickon). Belakangan, Mary juga bertemu sepupunya (Colin) yang selama ini dipingit dan diperlakukan sebagai anak sakit dan lumpuh. Colin juga menjadi sahabat barunya. Mary-lah yang kemudian menyemangati Colin agar ia tidak cengeng meratapi nasibnya karena tak pernah diperhatikan ayahnya yang lebih banyak berpesiar untuk urusan bisnis.

Lewat sosok Mary, Dickon, dan Colin, Francess tidak hanya menceritakan sebuah persahabatan yang indah . Ia dengan tegas memasukkan ide tentang kekuatan pikiran bagi kesembuhan penyakit lewat sosok Colin. Mary dan Dickon menjejali pikiran Colin bahwa ia sebenanrya tidak sakit dan bisa berjalan jika dia mau. Mengejutkan memang, Colin yang lumpuh, akhirnya bisa berlari bahkan bisa mengalahkan Mary dan Dickon ketika ketiganya beradu lari di taman rahasia.

The Secret Garden, sebuah kisah indah, mengobati hati sang penulisnya sendiri dan mudah-mudahan menyejukkan siapapun yang membacanya. Sungguh tepat jika novel seabad lalu ini dianugerahi Novel Anak Terbaik Sepanjang Masa.


http://www.republikbuku.com/page_produk_detil.php?kd_prod=978-602-8579-10-0

Monday, August 31, 2009

Catatan Ramadhan 2

Salah satu menu favorit berbuka puasa adalah gorengan. Gurih, mengenyangkan, ditambah rasa pedas cabe rawit atau bumbu kacang, mantap!

Dr. Shinya, dalam Miracle of Enzyme justru menyarankan agar kita menjauhi gorengan. Mengapa?

Kembali pada catatan sejarah, bangsa Yunani dan Italia mengonsumsi minyak zaitun sejak 6000 tahun lalu. Sedangkan bangsa Jepang mulai menyantap makanan digoreng sekitar 150-200 tahun lalu. Perbedaan kebudayaan menu makan ini kemungkinan besar terpartri dalam gen-gen kita dan menentukan apakah kita memiliki sistem pencernaan yang dapat mencerna minyak. Minyak diuraikan dan dicerna dalam pankreas. Menurut data klinis Dr. Shinya, pankreas bangsa Jepang lebih lemah dibandingkan masyarakat di negara-negara yang memiliki sejarah panjang menyantap gorengan.

Jika menyantap dua hingga tiga kali sehari makanan yang digoreng dan mengalami rasa sakit pada bagian atas perut, ada kemungkinan Anda menderita pankreatitis.

Memang ada anggapan minyak sayur lebih aman. Tetap, kita harus hati-hati akan jumlah makanan gorengan. Terlalu sering mengonsumsi minyak sayur buruk bagi tubuh. Akan tetapi, jika merasa tidak mungkin berhenti makanan gorengan, sebaiknya Anda mencoba mengurangi frekuensi makan gorengan. Alternatif lain, berusahalah mengunyah dengan lebih baik (minimal 30 kali). Mengunyah dengan baik dan mencampur makanan berminyak dengan air liur membantu menetralisasi asam lemak trans hingga kadar tertentu. Bagaimanapun, makanan yang digoreng pada umumnya akan menguras enzim-enzim dalam tubuh Anda.

Dengan lebih tegas Dr. Shinya mewanti-wanti: "Waktu makan, apa yang dimakan dan berapa sering memakannya menunjukkan penyebab penyakit".

Allah Swt. memerintahkan puasa untuk mendisiplikan waktu makan kita.
Rasulullah Saw. mencontohkan berbuka dengan kurma untuk kesehatan badan kita.
Puasa itu sendiri mengajarkan kita tidak sering makan.
Dan, hadis Nabi menyebutkan, "Berpuasalah agar kamu sehat".
Marilah kita manfaatkan Ramadhan sebagai sarana menahan diri dan menjaga kesehatan.
Sumber: Penerbit Mizan